Back to top

Hot Info

Pengguna Facebook banyak tidak sadar kena "Hack", begini cara mengeceknya

Hot Info

Lacak Keberadaan Smartphone Android dari Perangkat Lain

Web Development

Perbedaan Web Developer, Web Design dan Webmaster

IT & Technology

Review Ultrabook Asus Zenbook Prime UX31A

IT & Technology

Rendahnya gaji tenaga kerja IT di Indonesia

Lifestyle

Jalan-jalan ala Backpacker

Jika Kamu Sedang Mengalami 8 Hal Ini, Tandanya Kamu Orang yang Egois


Dalam diri manusia terkadang ada sifat ingin menang sendiri. Sifat egois manusia sudah bawaan dari lahir, tinggal bagaimana cara kamu untuk mengontrol sifat tersebut agar tidak merugikan dirimu maupun orang lain.

Seseorang tidak akan pernah menyadari bahwa dirinya telah melakukan tindakan yang egois sampai ada orang lain yang menegurnya. Apakah kamu salah satu orang yang egois? Sudahkah menyadarinya? Yuk kenali tanda-tandanya!

KAMU MERUPAKAN ORANG YANG TIDAK MAU DISALAHKAN PADAHAL KESALAHAN ITU KAMU YANG LAKUKAN
Pernahkah kamu berbuat salah tapi kamu tidak mau mengakuinya? Ciri-ciri pertama orang yang egois adalah tidak pernah ingin menjadi orang yang disalahkan. Kamu selalu menyalahkan orang lain padahal kesalahan tersebut berasal darimu. Dirimu tidak bersikap jujur dan tidak bertanggung jawab atas semua hal yang kamu lakukan. Kamu menganggap dirimu paling benar, dan orang lain yang salah.

TIDAK PERNAH PUAS, KAMU SELALU INGIN SEMUANYA SERBA SEMPURNA
Tidak pernah merasa puas dengan apa yang didapatkan, selalu saja masih merasa kurang dan ingin segala sesuatunya berjalan sempurna sesuai keinginan. Kamu tidak pandai bersyukur atas segala hal yang kamu miliki. Ciri-ciri seperti ini menandakan kamu termasuk orang yang egois. Sebagai manusia, wajar memang jika kita tidak pernah merasa puas, tetapi jangan lupa untuk bersyukur agar kita tidak menjadi orang yang sombong.

KAMU MEMANDANG SEGALA HAL DARI SUDUT PANDANGMU, TIDAK MEMENTINGKAN PENDAPAT ORANG LAIN
Ciri-ciri lainnya dari seseorang yang bersifat egois adalah tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Memang bagus berpegang teguh pada pendapat diri sendiri, tetapi ada kalanya pendapat orang lain dibutuhkan untuk mencapai hasil yang maksimal. Bisa jadi sudut pandangmu itu salah, dan bantuan orang lain pasti bisa meluruskan pandanganmu yang keliru tersebut. Jangan pernah malu untuk meminta bantuan dari orang-orang yang ada di sekelilingmu.

KAMU SELALU MENGELUH TIADA HABISNYA, SEAKAN DUNIA SERBA SALAH
Tiada hari tanpa mengeluh, seakan dunia ini yang bersalah padamu. Semua hal tidak berjalan sesuai dengan rencanamu, maka dari itu kamu terus mengeluh. Coba introspeksi diri, bukan dunia yang harus beradaptasi padamu, tetapi kamu yang harus menyesuaikan diri pada dunia. Dunia ini terlalu luas, jika kamu memaksakan dunia berjalan sesuai dengan kehendakmu. Orang sukses tidak pernah menggunakan waktunya hanya untuk mengeluh. Mengeluh tidak memberikan hasil dan mengubah apapun. Jangan buang waktumu dengan percuma untuk mengeluh jika tidak mau dianggap orang yang egois.

UNTUK BERKUMPUL DENGAN TEMAN PUN KAMU TIDAK PUNYA WAKTU
Bagi kamu, waktu untuk sendirian lebih penting daripada berkumpul bersama teman-teman. Kamu selalu tidak ada saat teman-temanmu membutuhkanmu. Bahkan saat diajak bertemu untuk mengobrol pun kamu punya sejuta alasan untuk menolak. Jangan heran, jika pada akhirnya kamu akan dijauhi teman-temanmu.

SULIT SEKALI BAGI KAMU BEREMPATI PADA ORANG LAIN, BAHKAN PADA TEMANMU SENDIRI
Kamu tidak pernah mau mempedulikan nasib orang lain. Susah sekali bagimu untuk berempati. Ketika temanmu sedang menceritakan masalahnya, kamu tidak bisa merasakan kesedihannya atau bersikap untuk menenangkannya. Hatimu seperti telah tertutup oleh lapisan es yang tebal. Bagimu, urusan orang lain tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu.

KAMU TIDAK PERNAH MAU BERUBAH KE ARAH YANG LEBIH BAIK
Ciri lainnya dari orang yang egois adalah tidak pernah mau introspeksi diri sendiri. Tidak ada keinginan untuk berubah kea rah yang lebih baik, karena dia selalu menganggap dirinya adalah yang paling benar. Dia merasa tidak perlu merubah dirinya karena dia menanggap tidak ada yang salah pada dirinya, dia yang sekarang sudah merasa sempurna.

Tidak ada orang yang pernah berani menegurnya ataupun melawannya, itulah yang membuat sifat egois dalam dirinya memuncak. Dia merasa bisa melakukan apapun, kesombongannya telah membawanya menjadi manusia yang egois dan serakah. Dia tidak akan pernah mau mendengarkan kata-kata orang lain untuk berubaheskipun itu untuk kebaikannya.

KARENA KAMU HANYA MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI, MAKANNYA KAMU TIDAK SABARAN SETIAP KALI DISURUH MENUNGGU
Orang yang egois biasanya akan enggan disuruh menunggu dalam hal apapun. Bahkan menunggu saat mengantri di kasir pun ia tidak sabaran. Pikirannya hanya bertumpu pada dunianya, tidak menghargai atau mementingkan orang lain. Ia selalu ingin didahulukan ketika mengantri. Saat disuruh menunggu pasangan yang datang telat hanya 5 menit pun ia tidak mau menunggunya.

Kamu perlu tahu, kesabaran diperlukan dalam berbagai hal bahkan yang tidak terduga sekalipun, seperti menunggu jadwal terbang pesawat yang delay, menunggu kereta datang karena terganggu, menunggu datangnya pizza yang dipesan dari layanan delivery, menunggu datangnya jodoh, dan sebagainya. Jika kamu tidak mau bersabar dengan menunggu, kamu tidak akan pernah mendapat apa yang kamu inginkan.

Sumber: tatajiwa.com



Cara Mengukur ROI Digital Marketing



Salah satu alasan kenapa semua orang mengalihkan promosi pada saluran digital adalah karena seluruh aktivitas dapat di ukur. Mengukur ROI Digital Marketing merupakan salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program pemasaran anda melalui saluran digital.

ROI atau Return on Investment merupakan persentase pengembalian investasi dari aktivitas digital marketing. Secara sederhana ini dapat diartikan, misal anda mengeluarkan biaya digital marketing Rp. 10 milyar dalam 1 tahun,  dan laba kotor anda naik dari Rp. 100 milyar ke Rp. 125 milyar, ini artinya ada peningkatan Rp. 25 milyar dalam setahun.
Lantas, setelah dikurangi biaya digital marketing, maka angka yang di dapat adalah Rp. 15 milyar. Rp. 15 milyar ini kita bagi biaya digital marketing dalam 1 tahun tersebut yakni Rp. 10 milyar. Maka, kita akan mendapati ROI sebesar 150%.
Digital Marketing Adalah Investasi
Akhirnya, ROI membantu Anda dalam justifikasi investasi pemasaran. Di masa-masa sulit, perusahaan sering memangkas anggaran pemasaran mereka – ini merupakan langkah yang berbahaya karena pemasaran merupakan investasi untuk menghasilkan pendapatan.
Dengan berfokus pada ROI, Anda dapat membantu perusahaan menjauh dari gagasan bahwa pemasaran adalah biaya yang dapat dipotong saat masa sulit. Oleh karena itu, kami melihat di tahun 2018 nanti, akan lebih banyak perusahaan di Indonesia yang menghabiskan anggaran pemasaran pada digital marketing. Ini didorong oleh kesadaran transformasi digital yang semakin terlihat tantangan dan peluangnya pada masing-masing bisnis.
Dengan sebuah website dan saluran digital di sosial media, investasi digital marketing dapat lebih bertahan. Tidak seperti iklan di saluran offline seperti televisi, koran, majalah dan radio, merk produk anda hanya bertahan selama anda membayar. Dengan digital marketing, tentunya dari waktu ke waktu, aktivitas promosi anda akan lebih menguatkan posisi brand anda di pasar. Inilah sebabnya kenapa digital marketing diakui sebagai investasi oleh banyak perusahaan di seluruh dunia.
Rumus Sederhana Cara Mengukur ROI Digital Marketing
(Return – Investment) dibagi dengan Investment
Perhitungan ROI untuk kampanye pemasaran bisa rumit. Anda mungkin memiliki banyak variabel baik di sisi keuntungan maupun sisi investasi (biaya). Tapi memahami rumus itu penting jika Anda perlu menghasilkan yang terbaik dari investasi pemasaran Anda.
Ketahui Komponen Dalam Mengukur ROI Digital Marketing
Komponen untuk mengukur ROI digital marketing dapat berbeda untuk setiap perusahaan. Namun dengan perhitungan ROI yang solid, Anda dapat berfokus pada kampanye yang menghasilkan return terbesar.
Misalnya, jika satu kampanye menghasilkan ROI 15% dan 50% lainnya, di manakah Anda akan menginvestasikan anggaran pemasaran Anda nanti?
Untuk mengukur ROI digital marketing, bagian yang sulit adalah menentukan apa yang merupakan “pengembalian” Anda, dan apa investasi sejati Anda. Misalnya, pemasar yang berbeda mungkin mempertimbangkan hal berikut untuk mendapatkan pengembalian:
Total pendapatan yang dihasilkan untuk kampanye (atau kuitansi atau omset kotor, bergantung pada jenis dan lokasi perusahaan Anda, yang merupakan penjualan baris teratas yang dihasilkan dari kampanye)
Laba kotor, atau perkiraan laba kotor, yaitu pendapatan dikurangi biaya barang untuk menghasilkan / mengantarkan produk atau jasa. Banyak pemasar cukup menggunakan persentase COGS (katakanlah 30%) dan deduksi dari total pendapatan
Laba bersih, yaitu gross profit dikurangi biaya operasional, atau secara akuntansi lebih dikenal dengan Laba Sebelum Perpajakan
Di sisi investasi, mudah bagi pemasar untuk memasukkan biaya media sebagai investasi. Tapi berapa biaya lain yang harus Anda sertakan? Untuk menjalankan kampanye Anda, Anda mungkin memiliki:
Biaya kreatif
Biaya pencetakan
Biaya teknis (seperti platform email, pengkodean situs web, dan sebagainya)
Waktu manajemen
Biaya penjualan

Jika anda telah meng- outsource digital marketing maka elemen biaya tersebut sudah termasuk pada biaya digital marketing secara keseluruhan.
Teknik Pengukuran ROI Melaui KPI
KPI atau Key Performance Index merupakan metrik pengukuran kinerja digital marketing di masing-masing saluran digital. KPI ini untuk mengetahui sejauh mana progres kampanye digital marketing anda berjalan. Biasanya, KPI ini mencakup:
Sosial Media
• Jangkauan pemirsa
• Keterlibatan pemirsa
• Penambahan anggota
Website
• Jumlah pengunjung website
• Bounce rate di website
• Page views per visitor
• Rata-rata waktu kunjungan per pengguna
• Klik menuju halaman konversi
Proses tersebut bertujuan untuk mengukur efektivitas perilaku pemirsa pada corong digital marketing (inbound–funel). Kinerja di sosial media dan website akan bermuara pada satu tujuan, yakni konversi penjualan.
Berikut contoh pengukuran ROI secara sederhana, melalui 2 titik KPI.
Dengan mendapatkan metrik KPI, program digital marketing dapat di sesuaikan dari waktu ke waktu untuk mendapatkan hasil yang optimal. KPI juga berguna untuk mengukur ROI digital marketing bagi para principal yang tidak menjual barang langsung ke pelanggan.
Studi Kasus, Bagaimana Sebuah KPI dapat Mengoptimalkan Program Digital Marketing
Sebuah perusahaan teknologi informasi di Jakarta, Indonesia, memiliki metrik KPI untuk alur corong pada proses inbound. Tujuan di set pada halaman ‘contact-us‘ yang mana menjadi sebuah ‘leads‘ atau prospek bisnis.
Pada metrik yang dihasilkan Google Analytics, ternyata diketahui bahwa prospek yang dihasilkan memiliki alur sebagai berikut :
Pengunjung website berasal dari ‘earned-media‘ dengan konten seputar digitalisasi perbankan
Selanjutnya, pengunjung tersebut melihat halaman ‘About Us’, untuk mengetauhi lebih lanjut. Setelah itu, sebagian mereka melihat halaman ‘Our Client’ untuk mendapatkan keyakinan
Akhirnya, barulah mereka mengunjung halaman ‘Contact-us’ untuk menjelaskan kebutuhan mereka.

Dari hasil metrik KPI tersebut, proses digital marketing selanjutnya dapat lebih diarahkan pada pembuatan konten seputar Fintech, e-Commerce, dan Perbankan Digital. Kemudian, halaman About Us dan Our Client lebih di mutakhirkan, baik ditambah dengan testimoni dan rekomendasi dari pelanggan, maupun tombol-tombol “Call-to-Action”.
ROI digital marketing bagi para principal atau pabrikan dapat diukur dari metrik KPI seperti yang dijelaskan diatas.
Selain itu, jika memang penjualan dilakukan oleh distributor mereka, kunjungan ke halaman daftar distributor dapat dijadikan sebagai “Goal” atau Konversi, dan dari sini ROI dapat ditentukan dengan menempatkan nilai pada tiap kunjungan halaman. Nilai tersebut dapat diambil dari rata-rata konversi pada penjualan di periode yang lalu. 
Pada akhirnya, dengan metrik KPI yang jelas, kita dapat meningkatkan ROI digital marketing dan team pemasaran dapat lebih mempertanggung-jawabkan anggaran pemasaran mereka ke CEO dan CFO. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa digital marketing lebih efektif untuk branding maupun untuk penjualan online.
Semoga artikel ini dapat membantu para praktisi pemasaran di seluruh Indonesia. Tanpa KPI dan ROI, perusahaan anda sedang bertaruh dalam pemborosan biaya. Sebesar apapun biaya promosi perusahaan anda, setiap rupiah yang dikeluarkan harus memiliki dampak.

Sumber: https://revelationasia.com/cara-mengukur-roi-digital-marketing/

Perilaku suka berbelanja dan hidup boros disebut perilaku konsumtif



"Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan manusia untuk melakukan konsumsi tiada batas, membeli sesuatu yang berlebihan atau secara tidak terencana. Pada banyak kasus, perilaku konsumtif ini tidak berdasarkan pada kebutuhan, tetapi didorong oleh hasrat dan keinginan" 

Sikap / perilaku suka berbelanja dan hidup boros disebut perilaku konsumtif. Kata konsumtif berasal dari kata konsumsi, dimana kata konsumsi berasal dari bahasa Belanda yaitu ‘consumptie’, yang berarti suatu kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan secara langsung. Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu produk barang atau jasa yang dihasilkan oleh para produsen.

Pengertian konsumtif adalah bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri). Konsumtif biasanya digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Sedangkan paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok yang menjalankan perilaku konsumtif / proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan boros atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan disebut konsumerisme. Perilaku suka berbelanja dan budaya hidup boros sebagai salah satu contoh sikap konsumtif tersebut akan menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan.

Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya.
Berikut ini adalah contoh - contoh perilaku konsumtif:
1. Membeli produk karena iming-iming hadiah.
2. Membeli produk karena kemasannya menarik.
 3. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi.
4. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat ataukegunaannya).
5. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status.
6. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan.
7. Munculnya penilaian bahwa membeli produk dengan harga mahal akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi.
8. Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda).  

Penyebab Perilaku Konsumerisme Perilaku konsumtif adalah perilaku yang mencerminkan hidup “serba instan”  atau tidak mau menempuh proses. Perilaku konsumtif  juga  sering dilawankan dengan perilaku produktif. Bahkan, konsumtif cenderung mengarah pada gaya hidup glamor, boros, dan lain sebagainya. Perilaku konsumtif lazim dialami pada masa-masa remaja. Remaja sangat senang dengan perilaku yang mengarah ke arah konsumtif dan hedonis (kesenangan / kenikmatan).
Mereka senang mengeluarkan uang demi membeli barang-barang yang mereka sukai.
Faktor – faktor penyebab perilaku konsumtif:
1.    Keluarga Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu faktor penyebab perilaku konsumtif bisa berasal dari keluarga. Sebagai contoh adalah seorang ibu yang sering memakai barang - barang mahal. Hal ini bisa berdampak pada sang anak sebagai seorang manusia yang mempunyai perilaku yang tidak mungkin bisa lepas, yaitu mengimitasi (meniru). Jadi, jika seorang anak melihat ibunya memakai perhiasan, mobil pribadi, telepon genggam, atau barang mahal lainnya, anak biasanya juga ingin memilikinya. Maka dari itu, jika orang tua menuruti permintaan anak, maka secara tidak sengaja orang tua telah membangun sikap konsumtif kepada si anak. Akan tetapi, jika orang tua menjelaskan mengapa dia membeli perlengkapan tersebut, maka kemungkinan anak menjadi konsumtif lebih kecil, tapi tidak dipungkiri juga bahwa faktor lingkungan juga sangat berpengaruh kepada si anak.
2.    Faktor Lingkungan Kadang kala, walaupun orang tua sudah mengajarkan kepada si anak bahwa perilaku konsumtif yang berlebihan itu tidak baik, tapi bisa saja faktor lingkungan membuat dia akhirnya memiliki perilaku konsumtif. Misalnya, menipu orang tua untuk mendapatkan uang jajan lebih agar bisa membeli baju yang serupa dengan teman-teman yang lain atau bisa juga menipu dengan mengatakan bahwa harus membeli perlengkapan sekolah agar bisa membeli barang yang diinginkan.

Simak lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/2106268#readmore

Apa yang dimaksud dengan Digital Marketing?



Dunia Teknologi saat ini sudah semakin berkembang. Perkembangan ini juga ditemukan banyak hal dan pelajaran yang baru. Salah satunya tentang dunia Digital. Saat ini sudah ada profesi baru yang disebut Digital Marketing, lalu di dunia Pendidikan pun, sudah ada beberapa Universitas di Indonesia yang membuat Jurusan tambahan yang berfokus pada dunia Digital tersebut.

Perkembangan dunia digital pun semakin pesat, dan banyak orang yang sudah mulai belajar ke Dunia digital tersebut. Tak heran saat ini banyak perusahaan yang mencari Spesialis Digital ini, salah satunya seorang Digital Marketing ini. Mungkin sebagian dari anda yang seorang Pembaca artikel ini sudah tahu tentang Digital Marketing, namun untuk memperjelas saya akan menjelaskan lebih dalam tentang Apa Yang dimaksud dengan Digital Marketing.

Digital Marketing atau Pemasaran Digital memiliki pengertian, yaitu suatu cara Pemasaran suatu Produk atau Jasa dengan memanfaatkan media digital supaya dapat menjangkau banyak konsumen. Bahasa simple-nya anda Promosi di dunia Online. Media yang digunakan oleh Digital Marketing cukup banyak, yaitu Website, Iklan (Ads) di Internet, Mobile Network, social media dan lainnya.

Untuk bisa menjadi seorang Digital Marketing anda perlu mengenal dan paham tentang Google. Kenapa Google? Karena Google merupakan Mesin Pencari Terbesar di dunia dan Nomor satu di dunia, sehingga orang banyak yang akan mencari berbagai Informasi dengan menggunakan Google, seperti pengetahuan, informasi tentang berita, informasi produk ataupun informasi jasa dan yang lainnya dicari melalui Google ini.

Seorang Digital Marketing mesti mempelajari dan menganalisa bagaimana caranya Produk atau Jasa dari Customer anda bisa ada di Halaman Satu pencarian Google, atau lebih dikenal dengan ilmu SEO (Search Engine Optimization). SEO adalah sebuah cara yang digunakan untuk Optimasi Produk atau jasa anda dalam sebuah Website, atau apapun yang anda posting di Internet sehingga Apa yang anda posting bisa muncul di Halaman satu Google. Perlu anda ketahui, untuk belajar SEO tidaklah mudah dan juga tidaklah sulit.

SEO inilah ilmu yang Wajib ada di dalam diri seorang Digital Marketing. Seorang Digital Marketing harus belajar, lalu praktek dan terus di ulang-ulang sambil anda menganalisa sehingga anda bisa menguasai SEO yang sebenarnya.

Selain SEO anda juga perlu mempelajari beberapa teknik pemasaran, seperti Copywriting, Desain foto atau video yang membuat orang tertarik dengan Produk anda, Karakter Konsumen dan lain sebagainya. So.. Wajarlah kalau bayaran seorang Digital Marketing tidaklah murah.

Apa Anda tertarik menjadi seorang Digital Marketing?