Back to top

Hot Info

Pengguna Facebook banyak tidak sadar kena "Hack", begini cara mengeceknya

Hot Info

Lacak Keberadaan Smartphone Android dari Perangkat Lain

Web Development

Perbedaan Web Developer, Web Design dan Webmaster

IT & Technology

Review Ultrabook Asus Zenbook Prime UX31A

IT & Technology

Rendahnya gaji tenaga kerja IT di Indonesia

Lifestyle

Jalan-jalan ala Backpacker

Tampilkan postingan dengan label e-commerce. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label e-commerce. Tampilkan semua postingan

Strategi e-Commerce Bertahan dari Badai PHK, Tak Bisa Cuma Andalkan Diskon


Bisnis e-commerce menghadapi tantangan besar bagaimana merancang strategi yang tepat agar bisnis terus tumbuh dan berkembang. Sebagian besar pelaku bisnis gencar menggelar diskon besar-besaran untuk menarik pelanggan.

Strategi pemasaran ini memang efektif dalam meningkatkan volume transaksi, tapi mengorbankan margin, bahkan kadang harus merugi, ini yang menjadi bumerang.

Dalam bisnis e-commerce, loyalitas pelanggan terhadap platform agaknya tak cukup kuat. Pelanggan cenderung berburu toko online yang memberi diskon paling menguntungkan.

Alih-alih mendongkrak kinerja, strategi obral diskon malah bisa membuat kinerja semakin rontok dan perusahaan terpaksa mengambil langkah efisiensi agar bisa tetap bertahan.

Blibli, salah satu e-commerce yang terafiliasi dengan Grup Djarum ini lebih fokus pada pelayanan untuk membuat pelanggan lebih nyaman dan aman bertransaksi. Misalnya, layanan berupa seleksi ketat mitra penjual untuk memastikan produknya berkualitas. Blibli menjamin tak mengambil langkah PHK kepada karyawan.

"Tak pernah ada pemutusan hubungan kerja yang terkait efisiensi, jika dibandingkan dengan gelombang PHK di perusahaan teknologi sejak pandemi hingga saat ini," kata Senior Vice President dan Head of Business Development Blibli, Yohanes Lukiman dalam keterangannya, Jumat (8/7/2022).

Ini disampaikan Yohanes pada acara HKSAR (Hong Kong Special Administrative Region) 25thAnniversary Business Conference: "Resilience and Vibrancy: Hong Kong, Indonesia, and the ASEAN", Jumat (24/6/2022) lalu.

Dengan beberapa strategi mengelola pelanggan dan mitra secara efektif, kinerja Blibli tetap bertahan melewati satu dekade dalam berbisnis. Saat ini, Blibli telah menjalin sinergi dengan Tiket.com dan PT Supra Boga Lestari (SBL), perusahaan yang mengelola jaringan toko bahan pangan segar kelas atas Ranch Market, The Gourmet, dan Farmers Market.

SBL yang diakuisisi tahun lalu telah menjadikan Blibli sebagai e-commerce dengan jaringan toko bahan pangan segar terbesar di Indonesia. SBL kini mengelola 56 gerai supermarket Ranch Market, Farmers Market, dan The Gourmet.

Sinergi Blibli dengan Tiket.com dan SBL akan memperkuat ekosistem bisnis dan pengembangan perusahaan. Blibli dapat membangun ekosistem omnichannel, satu strategi bisnis e-commerce yang kini sedang diterapkan Amazon dan Walmart.

Ini semua bakal semakin meningkatkan layanan ke pelanggan dan para mitra Blibli lebih maksimal. "Kami yakin bahwa laba dan rugi (P&L) kami merupakan yang paling sehat di dunia e-commerce Indonesia," kata Yohanes.

Sumber Artikel: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6168350/strategi-e-commerce-bertahan-dari-badai-phk-tak-bisa-cuma-andalkan-diskon


Apakah Bekerja di E-commerce Indonesia Masih Menjanjikan?



Perkembangan e-commerce di Indonesia semakin memperlihatkan taringnya. Tak heran, jika hampir kebanyakan masyarakat lebih memilih berbelanja online ketimbang harus beli dari toko fisik.

Selain proses yang lebih cepat dan praktis karena semuanya dilakukan melalui smartphone, harga yang ditawarkan para seller pun tidak kalah bersaing dengan toko konvensional.

Kesempatan ini pun dimaksimalkan dengan baik oleh toko dan perusahaan konvensional.

Jika dulu mereka menjual produk melalui toko atau ritel, kini mereka merambah ke dunia e-commerce untuk menjaring lebih banyak pembeli dan meraup keuntungan.

Bagi para profesional, munculnya e-commerce di Indonesia juga berarti terbukanya lapangan pekerjaan baru.

Nah, di era sekarang, masihkah relevan untuk bekerja di e-commerce? Kira-kira bagaimana prospeknya?

Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!

Munculnya E-commerce di Indonesia

e commerce indonesia

© Freepik.com

Awal munculnya e-commerce di Indonesia pada tahun 1996 ditandai oleh munculnya situs Bhinneka.com yang menjual berbagai peralatan komputer.

Pada saat itu, Bhinneka.com hanya berfungsi sebagai katalog, sedangkan komunikasi dengan pembeli dilakukan via ­­email.

Di tahun yang sama, hadir pula toko buku online pertama di Indonesia dengan nama domain sanur.com.

Sayangnya, sebagai salah satu pionir, sanur.com tidak bertahan lama.

Beberapa tahun kemudian, setelah melihat maraknya kegiatan e-commerce, pemerintah mulai menyusun rancangan undang-undang berkenaan dengan perdagangan elektronik.

Sementara itu, di saat yang bersamaan, beberapa startup e-commerce di Indonesia mulai muncul, seperti glodokshop.com dan FastnCheap.

Namun, satu per satu pemain tersebut mulai berjatuhan akibat internet economic bubble. Salah satu pemain lama yang berhasil bertahan dari krisis tersebut adalah Bhinneka.com yang tetap beroperasi hingga sekarang.

Perkembangan Transaksi Belanja Online di Indonesia

© Freepik.com

Tak bisa dimungkiri, seiring dengan zaman, dunia digital memang menguasai segala aspek dalam kehidupan masyarakat, termasuk perihal berbelanja.

Mengutip data dari GlobalWebIndex lewat CNN Indonesia, Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat adopsi e-commerce tertinggi di dunia pada tahun 2019.

Sebanyak 90% dari pengguna internet berusia 16 hingga 64 tahun di Indonesia pernah melakukan transaksi belanja online.

Tidak hanya itu saja, dari data analisis Ernst & Young melalui situs Kominfo, pertumbuhan penjualan bisnis online tiap tahun meningkat sebesar 40%.

Melihat data tersebut, jelas banyak  masyarakat memang gemar berbelanja online.

Meningkatnya kegiatan transaksi belanja online memang tidak terlepas dari pengguna internet di Indonesia. Menurut data Jakarta Globe, hampir 197 juta atau 74% dari populasi Indonesia telah menggunakan internet pada tahun 2020. Data tersebut mengalami peningkatan sebesar 8,9% dari tahun lalu.

Dengan begitu, dipastikan tren belanja online di Indonesia akan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.

Perkembangan E-commerce di Indonesia

© Freepik.com

Terus meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia mempengaruhi prospek pasar e-commerce di Indonesia.

Bagaimana tidak, saat ini sudah ada banyak sekali e-commerce yang menghiasi kancah perbelanjaan di Indonesia, seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada, Blibli, JD.ID, hingga Bhinneka.

Siapa yang tidak kenal e-commerce yang sudah disebutkan di atas? Hampir semua e-commerce tersebut dipakai masyarakat untuk melakukan transaksi belanja online.

Maraknya perdagangan dan belanja online membuat e-commerce raksasa yang berada di Indonesia menyajikan persaingan yang ketat dari tahun ke tahun.

Dilansir dari CNN Indonesia, pada tahun 2019, data menyebutkan bahwa Tokopedia menjadi e-commerce nomor satu di Indonesia, dengan total ada 1,2 miliar pengunjung.

Di urutan nomor dua ada Shopee yang mendapatkan total pengunjung sebesar 837,1 juta. Disusul oleh Bukalapak dengan perolehan 823,5 juta pengunjung.

Kendati demikian, seiring berjalannya waktu, atmosfer persaingan yang ditunjukkan oleh e-commerce di Indonesia terlihat semakin memanas.

Bagaimana tidak, mengutip Iprice, pada tahun 2020 data menunjukkan bahwa Shopee menempati urutan pertama sebagai e-commerce yang paling banyak dikunjungi di Indonesia dengan total 129 juta pengunjung per bulan.

Sementara Tokopedia menempati urutan kedua dengan total 114 juta pengunjung per bulan.

Melihat data statistik di atas, dipastikan persaingan e-commerce akan semakin ketat dari tahun ke tahun.

Itu artinya, dunia e-commerce akan terus menghiasi pasar Indonesia dalam beberapa tahun ke depan sehingga menjanjikan prospek yang cukup luas bagi para pencari kerja.

Prospek Kerja di E-commerce

e commerce indonesia

© Freepik.com

Nah, melihat perkembangan yang terjadi dalam dunia e-commerce di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, pasti kamu penasaran terkait prospek kerja di dalamnya.

Tak bisa dimungkiri, kepopuleran e-commerce di Indonesia juga ikut andil dalam memperluas lapangan pekerjaan di dalamnya.

Bahkan, bisa dibilang gaji yang ditawarkan jika kamu bekerja di e-commerce pun terbilang cukup tinggi. Mengutip CNBC Indonesia, lembaga penelitian SDM, Kelly Services, membuat laporan yang bertajuk “Indonesia 2019 Salary Guide”. Dalam laporan tersebut ia menuliskan bahwa e-commerce di Indonesia membutuhkan banyak pegawai level menengah dengan rata-rata gaji hingga Rp. 60.000.000,-

Melihat angka tersebut, siapa yang tidak tergiur dan mempunyai impian untuk bekerja di salah satu e-commerce. Sebagai gambaranmu, berikut ada beberapa prospek kerja yang bisa kamu tekuni jika ingin bekerja di e-commerce:

  • product manager
  • web developer
  • mobile app developer
  • software engineer
  • full stack developer
  • UI/UX designer
  • copywriter
  • dan masih banyak lagi

Keuntungan Bekerja di E-commerce

© Freepik.com

Selain prospek yang cemerlang dari segi bisnis, e-commerce di Indonesia juga menawarkan beberapa keuntungan bagi kamu yang ingin bekerja di sektor ini.

1. Bebas dalam berkreasi

Bekerja di e-commerce berarti membebaskan diri dalam berkreasi.

Perusahaan e-commerce membutuhkan kreativitas tinggi untuk dapat mengalahkan pemain lainnya di tengah persaingan yang makin ketat ini.

Salah satunya dengan memanfaatkan promosi iklan di berbagai media seperti YouTube.

Video iklan yang unik terbukti mampu menarik perhatian para viewers untuk secara sukarela menyebarkannya hingga viral di dunia maya.

2. Budaya kerja yang unik

E-commerce di Indonesia menjadi kategori startup teknologi yang termasuk well-established dan well-funded.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para fresh graduate dan profesional muda milenial yang haus akan tantangan dan proses belajar yang cepat.

Untuk menyeimbangkannya, para pendiri startup teknologi di Indonesia mencoba menawarkan budaya kerja yang dinamis dan menyenangkan.

Beberapa e-commerce menerapkan budaya kerja dengan jam kerja yang fleksibel kepada karyawannya. Bahkan, tidak jarang ada juga e-commerce yang menyediakan kantor dengan desain yang menyenangkan bagi karyawannya.

Mereka menyediakan berbagai macam fasilitas, seperti tenis meja, snack, dan lain-lain.

3. Batu loncatan untuk jenjang karier

Industri e-commerce bisa menjadi batu loncatan yang baik untuk kamu para profesional muda yang mempunyai rencana lain di masa depan. Apabila kamu berencana untuk berpindah tempat kerja di masa depan, pengalaman kerja di e-commerce akan sangat menambah nilai jualmu di mata calon perusahaan barumu.

Hal yang sama juga berlaku untuk kamu yang ingin mendirikan usaha sendiri, terutama startup teknologi.

Sumber: https://glints.com/id/lowongan/e-commerce-di-indonesia/#.YKMdragzbIU

Bangun Kepercayaan Website Anda vs Online Marketplace


Seorang pengusaha sudah punya website e-commerce namun merasa berat dan susah payah dalam menyakinkan calon pembeli agar terjadi penjualan (closing sales) melalui sistem website nya yang sudah canggih. Pengusaha tersebut juga memanfaatkan website marketplace, seperti blibli.com, tokopedia.com,  lazada.com, dsb. untuk penetrasi penjualan produknya. Lambat laun dalam hitungan tahun, pengusaha tersebut membandingkan efektifitas dan total OMZET penjualan antara website nya sendiri dengan website marketplace tersebut.

Pengusaha itu merasakan penjualan melalui websitenya sendiri menurun, sedangkan marketplace cenderung naik. Adakah yang salah pada websitenya? Apakah Anda mengalaminya juga? Coba evaluasi kembali strategi Anda dengan memastikan website tersebut mempunyai hal-hal seperti dibawah ini:

1. MENU NAVIGASI YANG MUDAH (User Friendly).
Tren desain website e-commerce saat ini adalah bersih, rapi, cenderung kaku, menu navigasi yang mencolok, topik menu ramping dan cenderung to the point. Kelihatan tombol untuk detail, beli, belanja lagi, dll. Coba lihat website e-commerce besar seperti zalora, traveloka, dll. To the point kan?


2. DESAIN WEBSITE HARUS RESPONSIVE.
Responsive adalah kemampuan sebuah website untuk menyesuaikan tampilan nya di berbagai alat, yaitu smartphone, tablet, dan laptop. Ingat bahwa mayoritas masyarakat habiskan waktu online nya menggunakan smartphone. Coba gunakan smartphone 5 inch dan buka website Anda, bandingkan dengan web lain yang terkenal. Kalau tampilan website Anda kecil, artinya belum responsive. Segera tambahkan design yang responsive.


3. JELASKAN CARA ORDER DAN METODE PEMBAYARAN.
Panduan cara melakukan order akan mempermudah calon pembeli memahami sistem website Anda. Bila perlu jelaskan menggunakan gambar, alur proses pembelian hingga produk itu terkirim ke pembeli. Jelaskan cara pembayarannya dan tampilkan bank yang Anda gunakan.


4. SAJIKAN INFORMASI SECARA DETAIL.
Berikan informasi detail produk Anda. Bila perlu 1 produk mempunyai banyak foto yang tampak dari samping kiri, kanan, atas atau close up nya. Deskripsikan sebanyak mungkin sehingga calon pembeli tidak perlu tanya kembali. Ini yang terjadi di website marketplace yang sajikan data produk lebih banyak dan detail.


5. TESTIMONIAL ATAU DAFTAR PELANGGAN.
Website marketplace menggelontorkan dana besar untuk iklan di TV, media cetak atau elektronik. Iklan ini lebih kuat berikan efek keyakinan di mata calon pembeli. Untuk website Anda, rajinlah sediakan formulir testimonial ataupun minta testimonial dari pelanggan serta tampilkan di website agar dibaca oleh calon pembeli. Ini salah satu upaya meyakinkan calon pelanggan karena sudah ada yang duluan transaksi melalui website Anda.


6. EKSISTENSI DIRI.
Website marketplace mempunyai badan hukum, kantor, team kerja yang jelas, prestasi dan publikasi yang nyata. Maka lengkapi website Anda dengan menampilkan legalitas hukum seperti dokumen SIUP, TDP, NPWP dll. Tampilkan juga foto toko, team, proses produksi di website, menandakan Anda ada dan nyata. Beritakan juga prestasi bisnis Anda, semisal pernah dapat sertifikasi dari pemerintah atau institusi lain, pernah diliput oleh media ini dan itu.


7. UPDATE DAN AKTIF DI SOCIAL MEDIA.
Lengkapi website Anda dengan artikel-artikel yang bermanfaat bagi calon pembeli. Menulislah di website Anda seputar manfaat produk, motivasi berbagi informasi seputar bisnis Anda. Update kegiatan Anda di website itu dan unggah ke media sosial juga. Beritakan kepada masyarakat bahwa Anda selalu ada.


8. CUSTOMER SERVICE DAN TECHNICAL SUPPORT SELALU SIAGA.
Website marketplace pun melengkapi diri dengan kegiatan diskusi produk. Maka lengkapi pula website Anda dengan fasilitas chat ataupun komentar agar terjadi diskusi interaktif antara calon pelanggan dengan Anda. Ramah dan selalu cerdas di mata calon pelanggan. Kegiatan berdiskusi adalah wajib hukumnya. Jika Anda ketus dengan pelanggan, maka Anda akan dibenci. Jika Anda ramah, maka Anda akan disayang dan terjadi closing sales.


9. MINTA FEEDBACK (ke Customer atau Masyarakat).
Jangan hanya minta pendapat yang bagus-bagus saja ke pelanggan. Mintalah pendapat berupa kritik dan saran agar bisa membangun. Beberkan ketidaksempurnaan itu agar menjadi perbaikan produk dan layanan bagi kesempurnaan website dan bisnis Anda.


10. LAKUKAN EVALUASI.
Jangan berdiam diri dan puas dengan keadaan Anda. Teruslah menggelar evaluasi secara berkala antara Anda dan team. Bisa juga antara Anda dan masyarakat. Berbincang dan berdiskusilah agar menemukan solusi bagi kesempurnaan website dan bisnis Anda.


11. IKLAN.
Teruslah melakukan iklan baik itu online maupun offline yang mengarahkan traffic ke website Anda. Para ahli bisnis bilang, satu pertiga keuangan perusahaan itu harus habis untuk iklan.

Trend yang berkembang saat ini adalah melakukan bisnis dengan pola pemasaran di berbagai kanal. Baik itu kanal marketplace, media sosial, dan melalui website sendiri. Bagaimanapun kejadiannya, jangan mematikan website Anda karena tetaplah web itu sebagai identitas dan profil usaha. Tetaplah memperhatikan hal diatas agar porsi OMZET melalui website Anda jadi makin besar.


Sumber: www.boc.web.id

Duel Raksasa e-Commerce China di Indonesia



Masuknya Alibaba menjadi penguasa baru Lazada sudah pasti bakal berimbas ke Indonesia. Hal ini kian menarik lantaran raksasa e-commerce China lainnya — JD.com —sudah lebih dulu menancapkan kukunya.

Ya, Alibaba dan JD.com (di Indonesia hadir dengan nama JD.id) merupakan dua pemain e-commerce kelas kakap dari Negeri Tirai Bambu. Keduanya mengisi posisi satu dan dua di tabel persaingan e-commerce China.

Seperti dilansir Nikkei, pada tahun 2015 lalu JD mengukir pertumbuhan 78% gross merchandise volume (GMV) — yang berarti total value dari produk dan jasa yang terjual dalam layanan onlinenya — dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Sementara Alibaba 'cuma' mencatatkan GMV 30% yang didapatkan perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma itu dari layanan business to consumer mereka.

Namun dari segi angka, Alibaba masih mengungguli JD, dengan torehan GMV sampai 2,95 triliun yuan atau setara dengan USD 460 miliar untuk periode di tahun 2015. Sementara JD harus puas dengan raihan 462 miliar yuan GMV.

Meski demikian, bos JD menyebut pencapaian perusahaan di tahun 2015 tersebut sudah memuaskan. "Pertumbuhan pada tahun 2015 kemarin melampaui perkiraan dari manajemen JD sendiri," ujar Sidney Huang, Chief Financial Officer JD dikutip detikINET dari Nikkei.

Adapun laporan iResearch mengungkap bahwa posisi JD cukup kuat jika berbicara segmen online direct sales. Dimana market share JD di kategori online direct sales mencapai 49% dengan mengacu dari total GMV pada Q4 2014. Sementara Alibaba — melalui layanan Tmall — menguasai 61,4% pangsa pasar B2C e-commerce .

Merembet ke Indonesia

Namun persaingan sengit keduanya sepertinya tak cuma bakal terjadi di negara asalnya, tetapi juga merembet ke Indonesia. Hal ini setelah Alibaba telah masuk dalam jajaran pemegang saham Lazada. Lazada sendiri beroperasi di enam negara Asia Tenggara: Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam serta Indonesia.

Chairman dan pendiri Alibaba, Jack Ma, memang menargetkan perusahaannya harus meraih setidaknya separuh pendapatan dari pasar mancanegara. Ketergantungan Alibaba saat ini pada pasar China dinilai kurang baik bagi masa depan perusahaan.

"Mereka memang memiliki uang tunai besar sehingga bisa melakukan investasi semacam ini. Mereka juga mencari pemicu pertumbuhan jangka panjang," kata Marie Sun, analis di Morningstar Investment Service yang detikINET kutip dariBusiness Times.

Hanya saja, Lazada — yang bakal didukung penuh Alibaba — sepertinya juga tak akan mudah menaklukkan hati pebelanja online Indonesia. Selain cukup kuatnya para pemain lokal — BukaLapak, Tokopedia dan Blibli — tantangan juga bakal datang dari pesaing satu kampung Alibaba, yakni JD.

Sebagai pendatang baru, JD sendiri terbilang agresif berekspansi dan menggelar program promosi. Terutama ketika jualan perangkat elektronik serta perlahan merambah alat kesehatan dan kecantikan.

Dan jika ditelisik lebih jauh di antara Lazada dan JD sejatinya memiliki perbedaan yang cukup signifikan JD itu termasuk dalam kategori online direct sales, dimana barang yang dijajakan langsung dijual oleh JD. Alhasil, jika ada masalah di kemudian hari, yang bertanggung jawab adalah situs tersebut.      

Sementara Lazada merupakan sebuah online marketplace. Dimana barang-barang yang dijajakan berasal dari banyak penjual. Jadi tak heran jika Anda mencari suatu barang bisa beberapa penjual yang menjajakan dan punya penawaran harga berbeda.

Dengan model bisnis seperti ini pula Lazada tentu harus lebih galak saat melakukan pengawasan terhadap para mitra penjualnya. Jangan sampai terjadi lagi kejadian membeli ponsel ternyata dikirimi sabun batangan yang sempat bikin heboh tempo hari.

detikINET pun sudah coba mengonfirmasi Lazada soal bagaimana perubahan strategi yang bakal terjadi setelah masuknya Alibaba ke perusahaannya. Namun sayang, mereka tak bisa memberi keterangan.

Adapun JD mengaku tak khawatir dengan bakal masuknya Alibaba lewat Lazada di bisnis e-commerce Indonesia. Mereka yakin dengan rencana bisnis matang dan sokongan lebih dari 600 karyawannya di Indonesia, mereka bisa memenangkan persaingan.

"Barang yang disediakan di JD.id pun dijamin asli dan cepat dalam melakukan pengiriman. Belum lagi kami telah membangun infrastruktur distribusi berupa drop point mulai dari Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Bandung, Solo, Surabaya sampai Medan," pungkas pernyataan JD.

Sumber: detik.com


Apakah itu e-commerce?


Pengertian e-commerce
Istilah E-commerce atau (Electronic commerce) yang biasa disebut juga Perdagangan elektronik adalah suatu proses pembelian, penjualan, pertukaran barang dan jasa antara dua belah pihak melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi. E-commerce dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.
Contoh dari e-commerce dapat berupa pembelian barang elektronik, buku, pakaian, tas, jam dan kebutuhan tersier lainnya yang dilakukan secara online dimana pihak penjual dan pembeli tidak harus bertemu secara langsung.
Kegiatan E-Commerce dapat dibedakan menjadi dua bagian diantaranya yaitu
1. Business to Business (perdagangan antar pelaku usaha bisnis)
2. Business to Consumer (perdagangan antar pelaku usaha dengan konsumen)


E-commerce Merupakan Bagian dari E-Business
Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-commerce ini sebagai aplikasi dan penerapan dari e-business yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), dll. Selain teknologi jaringan website, e-commerce juga memerlukan teknologi basis data (databases), surat elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, serta alat pembayaran untuk e-commerce ini.
Pada umumnya tujuan suatu perusahaan menggunakan sistem e-commerce dalam dunia bisnis adalah untuk memperoleh dan meningkatkan keuntungan dengan lebih efisien dan efektif. Adapun manfaat dalam menggunakan e-commerce bagi suatu perusahaan adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatkan pendapatan dengan menggunakan online channel yang biayanya lebih murah
  2. Mengurangi biaya operasional
  3. Memperluas jangkauan sehingga transaksi on-line dapat diakses oleh semua orang
  4. Mengurangi keterlambatan dengan menggunakan transfer elektronik/pembayaran yang  tepat waktu dan dapat langsung dicek.
  5. Mempercepat waktu pelayanan ke pelanggan, dan pelayanan lebih responsif.
  6. Meningkatkan customer loyalty
Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim manajemen yang handal, pengiriman yang tepat waktu, pelayanan yang bagus, struktur organisasi bisnis yang baik, jaringan infrastruktur dan keamanan, desain situs web yang baik dan menarik, beberapa faktor lain adalah sbb:

  1. Menyediakan harga yang kompetitif
  2. Menyediakan jasa pembelian yang tanggap, cepat, dan ramah.
  3. Menyediakan informasi barang dan jasa yang lengkap dan jelas.
  4. Menyediakan banyak bonus seperti kupon, penawaran istimewa, dan diskon.
  5. Memberikan perhatian khusus seperti usulan pembelian.
  6. Menyediakan rasa komunitas untuk berdiskusi, masukan dari pelanggan, dll.
  7. Mempermudah kegiatan perdagangan
Beberapa aplikasi umum yang berhubungan dengan e-commerce adalah:
  • Akunting dan sistem keuangan
  • Content Management Systems
  • Dokumen, spreadsheet, database
  • E-mail dan Messaging
  • Informasi pengiriman dan pemesanan
  • Newsgroup
  • On-line Shopping
  • Conferencing
  • Online Banking
  • Pelaporan informasi dari klien dan enterprise
  • Sistem pembayaran domestik dan internasional


Permasalahan atau Kendala pada E-commerce di Indonesia
Salah satu permasalahan e-commerce yang paling dominan adalah permasalahan yang bersifat teknis operasional karena berhubungan dengan teknologi informasi. Berbagai kendala yang dialami dalam pengimplementasian e-commerce di Indonesia dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
  • Dukungan serta kebijakan pemerintah yang belum jelas
  • Perkembangan infrastruktur yang lambat dan tidak merata di masing-masing wilayah
  • Kurangnya sumber daya manusia (SDM)
  • Perlunya perbaikan sistem perdagangan yang ada

Sumber Referensi :